Ini Adalah Sebagai Cara Kiyai Gontor Mendidik Untuk Keikhlasan Santri Pondok Modern Gontor, Ponorogo
NEWSBIN86.COM Sukabumi – Setiap Pondok Pesantren mungkin mempunyai Khasnya, dan Caranya masing – masing untuk Mendidik Para Santrinya, yang saat ini muncul adalah Karya tulis dari salah satu Alumni Pondok Modern Gontor, Ponorogo pada Tahun 2004, Restu Ashari Putra, S. Sos. Newsbin, pada Jum’at, 13/03/2026.
“Setiap jam sembilan malam, saya dipanggil beliau di tempat kediamannya untuk didikte di atas kertas buram. Hal ini dilakukan hampir tiap malam, hingga kurang lebih jam setengah dua belas malam. Kemudian tulisan tangan saya di atas kertas buram itu keesokan harinya saya pindah ke kertas lain dengan bentuk tulisan ketik. Pada malam hari lainnya saya pindahkan (lagi) ke kertas lain dengan tulisan ketik. Berikutnya, tulisan ketik ini saya bacakan pada beliau, dan beliau langsung memberikan koreksi di sana – sini, seperlunya,” Ucapnya.
Begitulah cerita Sugijanto seorang Alumni Tahun 1954 Pondok Modern Gontor ketika Pertama kali dimintakan Bantuan menulis buku Ushuluddin (Aqa’id) ‘Ala Madzhabi Ahli Sunnah wal Jama’ah, pegangan dasar bagi Para Santri oleh KH. Imam Zarkasyi Salah Seorang Trimurti Pendiri Pondok.
Sugijanto menuliskan kisahnya itu dalam satu artikel di dalam buku KH. Imam Zarkasyi di Mata Umat (1996). Bagi Para Alumni, terutama Santri, dan Murid langsung Pak Zar, begitu Beliau disapa, Kedisiplinan, dan Keikhlasan adalah harga Mutlak yang harus dijalani di pondok.
Maka tak ayal segala bentuk pekerjaan dalam rangka membantu pondok adalah pengabdian yang tidak akan diukur oleh materi atau uang. Bahkan boleh jadi, belum tentu pujian pun didapat. Tapi itulah sikap Pak Zar, beliau sangat konsisten dengan keteguhannya memegang prinsip dalam pendidikan.
Dalam proses khidmat membantu Pak Zar itulah Sugijanto banyak mendapat pelajaran penting. Santri yang banyak dipercaya oleh Pak Zar pasti akan banyak mendapat sentuhan pendidikan beliau dengan beragam bentuknya.
Sugijanto bahkan masih mengingat nasehat penting bila kelak ia menempuh jalan sebagai seorang penulis. “Gijanto! Jika kamu nanti menjadi pengarang atau penulis buku, menulislah dengan niat yang ikhlas. Sebab menulis buku dengan didasari niat yang ikhlas itu akan besar manfaatnya, dan bukunya akan dibaca banyak orang.”
Memang sebuah pengabdian besar harus dibarengi dengan keikhlasan yang besar. Suasana seperti ini akan sangat sulit ditemukan kecuali di Pondok Pesantren. Di sinilah peran para alumni untuk menyebarkan nilai-nilai agung di Pesantren agar dirasakan juga oleh umat secara umum.
Gontor sendiri bahkan lahir memang untuk melahirkan kader-kader yang berkiprah bagi sebanyak-banyak kemasalahatan umat. Bahkan kesuksesan sejati di mata para kiai Gontor adalah yang besar manfaat meskipun skalanya kecil.
Diceritakan suatu ketika Kiai Imam Zarkasyi ditanya seorang tamu tentang siapa saja alumni Gontor yang dianggap sukses menjadi orang besar. Apa jawaban beliau, “Orang besar bagi kami adalah orang yang mengajarkan alif-ba-ta (Agama) meski di desa kecil, di surau-surau kecil, dengan niat beribadah kepada Allah. Itu lebih besar daripada seorang pembesar di kota yang keadaannya hanya akan merugikan rakyat.”
Saking ikhlasnya, Kiai Imam Zarkasyi bahkan tak takut dan gentar ketika harus merobek ijazah santri yang telah menyelesaikan pendidikannya di Gontor hanya gara-gara ada perilakunya yang tidak beradab, “Kau Pencuri!” Ucap Beliau dengan Nada Marah di hadapan Santri Alumni tersebut.
Kiai Zarkasyi merobek syahadah (ijazah) seorang alumnus yang akan pergi ke luar negeri karena ternyata ia membawa pulang ke rumahnya buku-buku penting milik pondok. Bagi beliau, pendidikan sesungguhnya bukanlah berada di atas kertas. Beliau dalam berbagai tawjihat-nya menegaskan bahwa ijazah santri sejati adalah seberapa besar bermanfaat di masyarakat. Maka kita mengenal seluruh sepak terjang para alumni Gontor di masyarakat. Mereka bergerak sebagai pejuang sejati di setiap lapisan profesi.
Seluruh totalitas pendidikan dengan suasana batin penuh keikhlasan inilah yang terus menerus ditanamkan KH Imam Zarkasyi kepada santri-santrinya dengan pendekatan yang beraneka ragam dalam bentuk praktik langsung, bukan hanya sekadar omongan di dalam kelas.
Penting untuk saya kutipkan pandangan KH. Imam Zarkasyi tentang apa itu jiwa Keikhlasan yang harus dimiliki seorang santri dalam menjalani kehidupannya di Pondok Pesantren, terutama dalam kehidupan yang sesungguhnya.
Pandangan ini menjadi perlu disampaikan di tengah banyak kalangan yang meragukan tindakan-tindakan yang dilakukan antara Kiai dan Santri hanya tindakan dzahiriyah belaka sebagai tradisi tanpa dilandasi ruh atau jiwa Keikhlasan yang utuh menurut ajaran Islam.
Kita akan lihat bagaimana pandangan seorang Kiai Gontor mendefinisikan Keikhlasan sebagai jiwa yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Pandangan ini disampaikan Pak Zar ketika dimintai pandangannya dalam satu seminar Pondok Pesantren seluruh Indonesia di Yogyakarta pada tanggal 4 sampai dengan 7 Juli 1965;
“Jiwa Keikhlasan adalah sepi ing pamrih (tidak karena didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu), semata – mata karena untuk Ibadah. Hal ini meliputi segenap suasana kehidupan Pondok Pesantren. Kiai Ikhlas dalam mengajar, Para Santri, Ikhlas dalam belajar, Lurah Pondok Ikhlas dalam membantu (asistensi).
Segala Gerak – Gerik dalam Pondok Pesantren berjalan dalam suasana Keikhlasan yang mendalam. Dengan demikian terdapatlah suasana hidup yang harmonis antara Kiyai yang disegani, dan Santri yang taat, dan Penuh Cinta serta Hormat dengan segala Keikhlasannya.
Dengan demikian maka seorang santri atau setiap santri mengerti dan menyadari arti lillah, arti beramal, arti taqwa, dan arti ikhlas.
Sebagai seorang muslim, tentunya di mana saja akan berdakwah. Maka santri merupakan persiapan ke arah itu, di mana ada kesempatan. Maka mudah dikatakan bahwa Pondok Pesantren adalah obor yang akan membawa cahaya penerangan Islam.” (Pekan Perkenalan Pondok Modern Gontor, 1939).
Pengertian ini disampaikan sebagai bagian dari penjelasan atas lima (5) prinsip dari Panca Jiwa Pondok Pesantren yaitu Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwwah Islamiyah, Kebebasan.
Prof. Mukti Ali, seorang tokoh cendekiawan Muslim dan Menteri Agama pada era Presiden Soeharto bahkan menulis satu buku khusus “Ta’limul Muta’allim Versi KH. Imam Zarkasyi” (1991) dalam satu studi komparatif terhadap kitab adab pegangan para santri salafiyah di berbagai pondok pesantren yakni Ta’limul Muta’allim. Menurutnya, Kiai Zarkasyi sangat menekankan kepada para santrinya bahwa suasana keikhlasan itu harus tampak dalam urusan moral, juga dalam urusan material.
Dalam urusan moral, jelas Prof. Mukti, para santri akan terganggu proses pendidikan mereka jika tidak ada nuansa ikhlas dalam pergaulan, dalam organisasi kepemimpinan, juga dalam hubungannya antara guru dan murid. Semuanya diarahkan untuk tidak dimaksudkan mencari untung sendiri, menang sendiri, maju sendiri, baik sendiri, dan seterusnya. Seluruhnya untuk kemajuan bersama dan keuntungan bersama. Berkorban sama-sama, berjasa bersama, beramal bersama. (Mukti Ali, 1991)
Dalam urusan material, Prof. Mukti mengungkapkan bahwa jiwa keikhlasan, rasa tanggung jawab, dan rasa mau berkorban tidak akan dapat dibeli, “Kalau sekiranya segala gerak langkah di Pondok Modern ini harus dibayar, diberi atau dibalas dengan jasa atau upah, niscaya tidak akan terbeli, meskipun dengan jutaan rupiah,”
Guru – Guru di Pondok Gontor bahkan tidak ada perjanjian sebagai buruh. Semua bekerja berdasarkan Keikhlasan yang utuh. Dalam artian yang memang sebenarnya: Guru – Guru tidak menerima gaji sama sekali.
Mentalitas ini saya kira adalah keramat yang dimiliki Gontor, yang membuatnya tetap kokoh berdiri sampai saat ini sebagai Lembaga Pendidikan yang Berkarakter tidak goyah oleh gonjang ganjing Dunia. Solid dalam suasana Keikhlasan yang Lurus, dan Benar.
Semoga Para Kiyai, Guru, seluruh Santri, dan Para Alumni di mana pun berada selalu ada dalam lindungan Allah Swt.
Wallahu wa rasuluhu a’lam.
Restu Ashari Putra adalah Alumni Pondok Modern Gontor (2004). Selama di Pondok bergiat di Unit Media Majalah Santri ITQAN. Pendidikan Sarjana dilanjutkan menempuh Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, hingga lulus pada 2011. Kemudian menempuh Studi Magister Ilmu Al-Qur’an, dan Tafsir di Kampus yang sama. Selain di Pesantren, juga menjadi Anggota di Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Sukabumi.
Restu Ashari Putra, S.Sos. – Red Newsbin.
