Ketika Sekolah Kehilangan Jiwa, Maka Korupsi Menemukan Rumahnya
NEWSBIN86.COM Sukabumi – Oleh: Ujang Suherman, S.Pd. — Ketua Persatuan Orang Tua Peserta Didik Seluruh Sukabumi (POPDIKSI). Newsbin, pada Minggu, 07 Desember 2025.
Nasi yang kita makan hari ini bukan padi yang ditanam kemarin sore; demikian pula perilaku dan mentalitas manusia hari ini bukan hasil pendidikan sehari dua hari. Apa yang terjadi di dunia pendidikan hari ini—terutama di Sukabumi, baik Kabupaten maupun Kota—adalah refleksi dari proses pendidikan panjang yang gagal membentuk manusia berintegritas. Pada peringatan Hari Antikorupsi Sedunia 09 Desember 2025, kita seharusnya bertanya dengan jujur: jika korupsi di negeri ini seperti tidak pernah surut, maka sistem pendidikan seperti apa yang telah kita bangun selama puluhan tahun?
Pendidikan kita masih terjebak dalam romantisme “teori” dan teks-book ketimbang pembiasaan karakter yang nyata. Sekolah terlalu sibuk mengikuti kebijakan pusat tanpa dimaknai secara kreatif dan lokal-adaptif. Sistem hanya menyuruh, sekolah hanya menjalankan, guru hanya mengajar, murid hanya menerima. Inovasi, kemandirian, dan keberanian berpikir kritis mati perlahan oleh rutinitas administrasi yang seolah menjadi tujuan dari pendidikan. Akhirnya, kita tidak sedang mendidik manusia, melainkan membentuk operator sistem.
Lebih memilukan, sekolah-sekolah negeri yang secara ideal seharusnya menjadi motor perubahan justru makin terperosok kalah bersaing dengan sekolah swasta. Swasta berani berinovasi, membangun budaya, memperkuat karakter, menjadi pusat kreativitas. Sementara sekolah negeri masih terbelenggu pola pikir lama: mengikuti petunjuk teknis, bukan membangun kualitas; menghabiskan anggaran, bukan menjamin nilai. Ketika pendidikan hanya memenuhi laporan, bukan mendidik manusia, maka kemerosotan adalah konsekuensi yang logis.
Dalam iklim pendidikan yang carut-marut seperti ini, jangan heran jika korupsi akhirnya dianggap sebagai hal yang wajar. Anak didik bertahun-tahun belajar menghafal teori, tetapi jarang sekali belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, atau integritas sebagai budaya hidup. Bila guru tidak mendapat ruang tumbuh, bila kepala sekolah ditekan sistem untuk sekadar patuh, bila birokrasi menjadi tempat berlindungnya kepentingan, maka pendidikan kehilangan “jiwa”. Dan ketika pendidikan kehilangan jiwa, korupsi menemukan rumahnya.
Karena itu kita harus berani menyatakan dengan tegas bahwa dunia pendidikan harus bebas dari korupsi — baik korupsi waktu maupun korupsi materi. Korupsi waktu terjadi ketika tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan pemangku kebijakan tidak benar-benar mengabdikan waktunya untuk mutu sekolah, tetapi hilang dalam kenyamanan rutinitas dan formalitas. Korupsi materi terjadi ketika ada penyimpangan anggaran, gratifikasi, permainan proyek, komersialisasi program, hingga pemaksaan pembelian buku atau barang tertentu untuk kepentingan pihak tertentu. Kedua bentuk korupsi ini sama berbahayanya, karena sama-sama merampas hak tumbuh kembang peserta didik.
Karena itulah literasi antikorupsi di dunia pendidikan bukan hanya perlu digalakkan, tetapi harus menjadi gerakan besar yang terstruktur, bukan sekadar slogan tahunan. Namun literasi ini tidak boleh dibangun secara asal-asalan. Harus dengan sumber belajar—buku, modul, dan materi—yang sudah terverifikasi dan lulus penilaian pemerintah melalui PUSBUKUR (Pusat Perbukuan dan Kurikulum) agar pelaksanaannya sejalan dengan landasan ilmiah dan peraturan yang berlaku. Jangan karena ketakutan terhadap tuntutan integritas kemudian sekolah membeli buku apa saja, dan jangan pula karena tekanan oknum tertentu lalu sekolah memilih buku yang tidak sesuai aturan. Upaya melawan korupsi tidak boleh menjadi alasan lahirnya komersialisasi baru, tekanan baru, dan kepentingan baru.
Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk bercermin. Pendidikan adalah ruang paling luhur untuk membangun bangsa, tetapi juga ruang paling berbahaya jika salah diarahkan. Pola pikir generasi tidak dibentuk dalam ruang pemerintah, bukan di ruang pengadilan, bukan di jalanan—melainkan di sekolah. Jika sekolah berhasil membentuk manusia berkarakter, negara akan maju. Jika sekolah gagal menjaga integritas, maka negara akan hancur bahkan tanpa perlu penjajahan baru.
Sukabumi membutuhkan keberanian baru: sekolah yang tidak sekadar mengajar, tetapi mendidik; kepala sekolah yang tidak sekadar patuh, tetapi berpikir; guru yang tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi menanamkan nilai; masyarakat yang tidak sekadar menuntut prestasi akademik, tetapi akhlak dan integritas. Kita tidak membutuhkan sistem pendidikan yang sibuk bekerja, tetapi yang bermakna. Kita tidak membutuhkan lulusan pandai, tetapi manusia baik yang cinta kebenaran.
Hari Antikorupsi Sedunia seharusnya bukan sekadar peringatan, tetapi momentum untuk menyatakan bahwa pendidikan harus direbut kembali dari birokrasi dan dikembalikan kepada tujuan sejatinya: membangun manusia. Karena ketika korupsi bertumbuh, itu bukan karena hukum melemah. Itu karena pendidikan kehilangan arah. Dan ketika pendidikan menemukan kembali jiwanya—maka masa depan bangsa akan menemui harapannya.
Red Newsbin.
